Now Loading

Bab 7

Kali ini tak banyak warga yang tahu. Mereka beraktifitas di kebun kopi serta di rumah. Hanya Pak Kades serta perangkat desa lainnya yang menemani Pak Winarno, Polisi, serta mandor dan satu orang staff dari perusahaan kontraktor.

“Ini menurut keterangan dari seorang dukun yang ada. Betulkah sewaktu bapak dan pekerja lainnya mengaspal jalanan ini sempat menemukan makam?”

“Makam? Lho, bukannya kata Pak Kades sendiri yang bilang disini aslinya tanah kebun!”

“Iya, setahu saya juga begitu! Tapi jalanan ini sudah berulang kali memakan korban dan cukup meresahkan kami sebagai warga desa disini.”

Jatmiko selaku mandor proyek disini mencoba mengingat kembali. Apakah ada peristiwa tentang penemuan makam ketika pembangunan jalan ini? Tapi ia malah justru teringat ada satu peristiwa yang sedikitnya ganjal.

“Saya ingat waktu itu ada pekerja yang katanya kabur dan tak kembali lagi. Padahal belum menerima gaji.”

“Nah, coba ceritakan yang itu saja dulu pak. Supaya Pak Polisi juga bisa mengurutkan peristiwanya.”

Rekaman perstiwa itu melintas di kepala Jatmiko. Ia hapal dengan para pekerjanya. Entah kenapa sudah hampir tiga harian tak melihat orang yang bernama Fajar. Padahal sebentar lagi gajian. Terpaksa uangnya dia titipkan pada Danar yang kebetulan satu desa dengannya.

“Kenapa Pak Jatmiko baru bilang sekarang? Waktu itu laporannya ke saya semua pekerja sudah menerima gajinya.”

“Ya waktu itu saya lagi pusing, Mbak Mita! Makanya saya titipkan saja ke temennya Fajar alias si Danar itu. Lagipula memang sudah hak dia terima uang gajinya.”

Mita selaku staff dari perusahaan kontraktor itu sudah paham. Dia persilahkan Pak Jatmiko bercerita kembali.

“Saya dengar dari Danar kalau si Fajar itu lagi ada masalah di kampungnya. Makanya dia pulang dadakan. Tapi setahu saya, anak itu pasti ijin kalau mau pergi keluar dari tempat proyek. Baru kali ini diam saja. Entah kenapa kok waktu itu dia tidak ijin ke saya sama sekali.”

“Pak Jatmiko tidak curiga waktu itu?”

“Ya, tidak curiga sama sekali Pak Polisi.”

“Lalu adakah orang lain yang bapak tanyakan tentang si Fajar ini selain sama Danar?”

“Ada, Pak Polisi! Namanya seingat saya itu, Rohmat. Sayangnya, anak itu malah bilangnya tidak tahu terus. Kayak ketakutan begitu. Saya sempat curiga awalnya sama dia. Tapi kebetulan lagi banyak urusan, akhirnya sempat lupa sama hal itu.”

Polisi langsung mengantongi nama Rohmat dari bagian yang dicurigai. Berdasarkan cerita dari Jatmiko. Setelah proyek ini selesai malah Rohmat tak mau diajak lagi bekerja dengannya. Dia pilih pulang kampung saja. Mita yang gantian ditanya tentang data dari si Rohmat. Tapi dia tak bawa berkasnya dan terpaksa kembali dulu ke kantor untuk cari tahu identitas pekerja itu.

“Mbak Mita kalau sudah ketemu datanya Rohmat segera lapor ke saya ya!”

“Baik, Pak Winarno.”

***

Data diri pekerja bernama Rohmat sudah didapatkan oleh Mbah Mita. Segera dilaporkan oleh Pak Winarno dan diteruskan pada Pak Yanto. Polisi yang waktu itu datang turut diundang  ke rumah pribadi Pak Kades. Malah bersama rekannya satu lagi. Mandor proyek jalan desa juga diminta wajib hadir disini.

“Pak Jatmiko, setelah ini kita datangi rumahnya Rohmat. Ini alamatnya sudah jelas dan kita bisa tanyakan lebih lanjut sama dia.”

“Apa kita nanti ke rumahnya si Fajar juga, Pak Polisi?”

“Ya, setelah ketemu sama yang namanya Rohmat. Saya curiga sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan sama pekerja itu, Pak Jatmiko.”

Mandor itu mengangguk saja. Ia tak mungkin bisa menolak untuk tidak ikut dalam pengusutan kasus ini. Sekalipun proyeknya telah berakhir dua tahun yang lalu. Tapi bagaimanapun juga bila terjadi hal semacam ini, Jatmiko tetap ikut terseret. Sekalipun ia tak tahu menahu hanya sekedar bercerita dari apa yang dialaminya. Tentang hilangnya pekerja bernama Fajar secara dadakan.

“Apa yang nanti perlu saya tanyakan ke Rohmat, Pak Polisi?”

“Tidak perlu, Pak Jatmiko! Biar saya sama teman saya yang coba bertanya dulu. Kalau sekiranya kesulitan baru bapak kami minta bantuannya.”

Sebenarnya Jatmiko sudah tegang. Ia mulai menebak-nebak apakah Rohmat melakukan pembunuhan pada Fajar. Lalu ia ketakutan dan saat ditanya tak tahu-menahu. Tetapi mandor itu merasa tak mungkin Rohmat membunuh. Sebab pekerja satu itu amatlah polos orangnya.

Perjalanan pun dilakukan dari Desa Langgar Jati menuju ke tempat dimana Rohmat berada. Sesuai dengan alamat yang diberikan. Mobil yang ditumpangi oleh mereka mulai memasuki jalanan sempit. Menembus hutan menelusuri jalan setapak. Tak ia kira jika rumahnya Rohmat harus melalui jalanan seperti ini. Untung masih siang hari.

Tok! Tok! Tok!

“Permisi, kami dari kepolisian mau bertemu dengan bapak Rohmat ada?”

Pintu rumah pun akhirnya terbuka. Nampak seorang perempuan tengah menggendong bayinya. Wajahnya nampak kebingungan melihat dua orang polisi serta orang-orang yang ia kira sebagai pejabat. Baru kali ini ada tamu seperti ini datang ke rumahnya.

“Oh, iya Pak Polisi maaf suami saya lagi di kamar. Biar saya panggil dulu ya!”

Belum sempat dipanggil malah justru sudah nampak duluan. Tapi melihat kehadiran dua orang polisi di rumahnya ia mulai ketakutan. Malah kakinya sudah siap untuk berlari. Perlahan terus menghindar hingga keluar melalui pintu belakang rumah ini.

“Apa betul Pak Jatmiko, orang itu yang namanya Rohmat?”

“Iya, betul itu pak!”

“Joni, kejar orang itu lewat samping rumah ini! Saya lewat depan sini saja.”

“Siap, Ndan!”

“I-ini ada apa ya? Paak! Lho, bapak kok sudah hilang dari sini?”

Perempuan tadi nampak bingung karena suaminya tiba-tiba saja lari dari sini. Kedua polisi itu jadi sibuk mengejar Rohmat yang sudah berhasil kabur. Namun karena ia berlari dengan rasa takut yang teramat besar. Sangat mudah bagi polisi bernama Joni untuk memegang lengannya.

“Pak, ikut saya sebentar ke rumah.”

“Saya nggak salah, Pak Polisi! Toloooong!”

“Kalau bapak tidak merasa salah, tolong kerjasamanya ya pak! Kami hanya ingin meminta keterangan dari Pak Rohmat.”

Akhirnya tak mampu lagi Rohmat kabur. Ia ikuti saja langkah polisi yang menarik lengannya. Lagipula pegangannya cukup kuat. Terasa seperti menggenggam sampai ke tulangnya. Tidak semuanya ikut duduk. Hanya sang pemilik rumah, Jatmiko serta Pak Yanto Kades. Lainnya berdiri termasuk istrinya Rohmat. Sebab ruang tamunya terhitung sempit.

“Pak Rohmat, kami mendengar tentang pekerja bernama Fajar yang tiba-tiba saja hilang sebelum proyek pembangunan jalannya selesai. Apa bapak tahu dia dimana?”

Mata Rohmat tak berani memandang siapapun. Ia hanya menunduk sambil sesekali menggosokkan kedua kakinya. Polisi sudah tak sabar untuk mendapatkan keterangan dari orang satu ini.

“Mat, tolong cerita sama saya. Kamu tahu tidak Fajar itu tiga hari sebelum gajian kemana?”

Masih juga ia bungkam. Hanya memainkan kedua kakinya. Namun kali ini istrinya yang ikut ambil bagian. Perempuan itu memang sudah lama mencurigai sesuatu pada diri suaminya.

“Suami saya ini semenjak mengerjakan proyek jalan desa jadi susah diajak ngomong. Bapak, tolong jujur saja! Sebenernya apa yang terjadi pas ditempat proyek?”

Bukannya menjawab Rohmat malah justru menangis. Rasanya aneh melihat laki-laki yang sudah pantas dipanggil “bapak” itu malah meneteskan air matanya. Air mata mengalir melalui guratan di kulit wajahnya.

“Iya, saya mau ngomong. Tapi ini nggak akan dimasukin ke penjara kan?”

“Ya buat apa masukin kamu ke penjara, Mat! Wong ceritanya dari kamu saja kita semua belum tahu.”

Rohmat akhirnya mau bercerita juga. Tentang apa yang terjadi pada Fajar. Ia selama ini menjadi pendiam karena trauma dengan peristiwa kala itu.

***